Budaya Melayu di Literasi Digital Digelorakan Pantai Tantarayana Mundam

Budaya Melayu di Literasi Digital Digelorakan Pantai  Tantarayana Mundam

Foto: Ist

INTIREDASI24,COM, DUMAI – Budaya Melayu tak boleh berhenti sebagai warisan masa lalu. Di tengah derasnya perkembangan digital, budaya dan literasi harus terus dihidupkan dan diperkenalkan kepada generasi muda.

Semangat itu digaungkan dalam Seminar Internasional Budaya Melayu dan  Literasi Riau 2026 yang digelar di Pantai  Tantrayana Mundam, Jalan Teluk Makmur, Kecamatan Medang Kampai, Kota Dumai, Jumat-Sabtu, 11–12 September 2026.

Mengusung tema “Memajukan Budaya Melayu di Era Digital”, kegiatan tersebut dikemas dengan rangkaian agenda seni, budaya dan literasi yang melibatkan peserta serta sejumlah praktisi dan pemerhati budaya.

Pada Jumat, 11 September 2026, kegiatan dimulai dengan penyambutan tamu, registrasi peserta dan pembagian tanda peserta, termasuk penentuan nomor tenda. Rangkaian kemudian dilanjutkan dengan gladi resik dan kegiatan workshop hingga malam hari.

Memasuki Sabtu, 12 September 2026, peserta mengikuti rangkaian kegiatan sejak pagi. Salah satu agenda utama yakni Workshop Seni Gerak (Teater) yang menghadirkan tiga instruktur berpengalaman.

Budi Sumarno, Pengamat Budaya, membawakan materi Kreativitas Seni Budaya. Sementara Bedjo Sulaktono, Praktisi Seni Budaya, memberikan materi Pertunjukan Seni Budaya.

Sedangkan Umar Tadjuddin, Sastrawan sekaligus Praktisi Budaya, membawakan materi Olah Vokal dan Karakteristik Pertunjukan.

Tak berhenti pada pembekalan materi, peserta juga menjalani praktik dan persiapan penampilan. Rangkaian kegiatan turut diisi Rolling Thunder Vespa serta penyambutan tamu.

Setelah ISOMA atau Istirahat, Sholat dan Makan, kegiatan dilanjutkan dengan gladi bersih penampilan teatrikal bersama Budi Sumarno, Bedjo Sulaktono, Umar Tadjuddin dan seluruh peserta.

Kegiatan ini menegaskan bahwa pelestarian budaya Melayu membutuhkan ruang kreatif yang mampu mengikuti perkembangan zaman. Seni, sastra, teater dan literasi digital dipadukan untuk menjaga budaya Melayu tetap hidup, berkembang dan dikenal lebih luas.

Pantai Tantrayana Mundam pun menjadi ruang pertemuan budaya, kreativitas dan literasi, sekaligus menjadi panggung untuk membawa budaya Melayu semakin dekat dengan generasi. (*) 

Komentar Via Facebook :